rohmans

Belajar Kepemimpinan dari Nabi Yusuf: Kualitas Nyata Sebagai Dasar Pilihan

Belajar Kepemimpinan dari Nabi Yusuf: Kualitas Nyata Sebagai Dasar Pilihan   Pemilihan rektor merupakan momen penting bagi sebuah ins...

Belajar Kepemimpinan dari Nabi Yusuf:

Kualitas Nyata Sebagai Dasar Pilihan

 

Pemilihan rektor merupakan momen penting bagi sebuah institusi akademik. Proses ini tidak hanya menuntut pertimbangan formal, tetapi juga refleksi mendalam terhadap kompetensi, integritas, dan rekam jejak calon pemimpin. Kepemimpinan sejati tidak hanya soal jabatan, tetapi kemampuan untuk membangun institusi, menginspirasi civitas akademika, dan menumbuhkan kepercayaan. Dalam hal ini, kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur’an memberikan pelajaran yang sangat relevan bagi dunia pendidikan.

Dalam Surah Yusuf 12:31, Allah SWT menceritakan:

فَلَمَّا سَمِعَتْ بِمَكْرِهِنَّ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِنَّ وَأَعْتَدَتْ لَهُنَّ مُتَّكَـًٔا وَءَاتَتْ كُلَّ وَٰحِدَةٍ مِّنْهُنَّ سِكِّينًا وَقَالَتِ ٱخْرُجْ عَلَيْهِنَّ ۖ فَلَمَّا رَأَيْنَهُۥٓ أَكْبَرْنَهُۥ وَقَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ وَقُلْنَ حَٰشَ لِلَّهِ مَا هَٰذَا بَشَرًا إِنْ هَٰذَآ إِلَّا مَلَكٌ كَرِيمٌ

Dalam ayat ini, para perempuan Mesir terpukau oleh ketampanan, wibawa, dan kemuliaan pribadi Nabi Yusuf hingga tanpa sadar melukai tangan mereka sendiri. Para mufasir klasik menekankan bahwa kekaguman ini bukan hanya karena rupa fisik, tetapi karena akhlak mulia, integritas, dan kesempurnaan karakter Nabi Yusuf.

Pandangan Para Mufasir

1. Al-Tabari (Jami' al-Bayan) menulis:

> وَقَالَ الْمُفَسِّرُونَ: قَوْلُهُ ﴿فَلَمَّا رَأَيْنَهُ أَكْبَرْنَهُ﴾ أي ذُهِلْنَ مِنْ شَاهِدِ الْجَمَالِ وَالْكَرَمِ وَمَا فِيْهِ مِنَ الْخُلُقِ الْعَظِيمِ

Artinya, para perempuan tercengang oleh keindahan, kemuliaan, dan akhlak yang agung, sehingga tanpa sadar melukai tangan mereka sendiri.

 

2. Ibn Kathir (Tafsir al-Qur’an al-‘Azim) menekankan:

> وَقَالَ ابْنُ كَثِيرٍ: إِنَّ الْخَطْأَ الَّذِي فَعَلْنَهُنَّ كَانَ نَاتِجًا عَنْ إِكْرَاهِ الْجَمَالِ وَالْبَشَاشَةِ وَالرِّفْعَةِ فِي الْخُلُقِ وَالسِّيَرَةِ

Kekaguman mereka muncul karena keindahan, akhlak, dan kesempurnaan pribadi Nabi Yusuf, bukan sekadar daya tarik fisik.

3. Al-Qurtubi (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an) menambahkan:

> وَالْمَعْنَى أَنَّ النِّسَاءَ ذُهِلْنَ مِنْ نُورِ الْجَمَالِ وَالْخُلُقِ وَالرِّفْعَةِ فِي الْأَدَبِ

 4. Fakhruddin al-Razi (Mafatih al-Ghayb) menjelaskan:

> وَفِي قَوْلِهِ ﴿أَكْبَرْنَهُ﴾ تَأْكِيدٌ لِمَا فِيهِ مِنَ الْمَوَاهِبِ وَالْكَرَامَةِ

Razi menekankan bahwa keunggulan nyata memiliki pengaruh yang mampu menjangkau hati dan akal manusia.

Pelajaran Kepemimpinan dari Kisah Nabi Yusuf

Kisah ini mengajarkan beberapa prinsip penting yang relevan bagi pemilihan rektor atau pemimpin institusi:

1. Keunggulan nyata selalu diakui. Seorang pemimpin yang memiliki integritas, kapasitas, dan prestasi akan secara alami memperoleh pengakuan, bahkan tanpa promosi berlebihan.

2. Kualitas berbicara lebih kuat daripada retorika. Kepemimpinan yang dibangun di atas rekam jejak dan prestasi nyata memengaruhi persepsi dan kepercayaan orang lain.

3. Integritas membangun kredibilitas. Pemimpin yang amanah, kompeten, dan berakhlak mulia menumbuhkan penghormatan dan dukungan, yang menjadi fondasi bagi keberlanjutan institusi.

Dalam konteks akademik, analogi ini sangat relevan. Seorang calon rektor yang telah menunjukkan prestasi nyata dalam meningkatkan kualitas pendidikan, reputasi akademik, dan pengelolaan institusi akan memperoleh dukungan alami dari civitas akademika. Prestasi nyata dan integritas menjadi “bahasa universal” yang menegaskan kapasitas kepemimpinan, sama seperti pengakuan spontan yang muncul terhadap Nabi Yusuf.

Refleksi untuk Pemilihan Rektor

Kepemimpinan yang baik bukan sekadar jabatan formal, tetapi kemampuan untuk mewujudkan kemaslahatan institusi dan membangun kepercayaan civitas akademika. Dalam hal ini, rekam jejak dan kualitas yang terlihat menjadi indikator utama. Seorang pemimpin yang telah terbukti amanah, kompeten, dan berprestasi akan menginspirasi, membangun kepercayaan, dan meninggalkan jejak positif bagi institusi.

Kisah Nabi Yusuf menunjukkan bahwa keunggulan yang nyata berbicara sendiri. Dalam dunia pendidikan, hal ini menjadi dasar pertimbangan rasional dan Islami untuk memilih seorang pemimpin. Oleh karena itu, kualitas nyata harus menjadi fondasi utama dalam memilih rektor, bukan popularitas atau klaim semata.

 


Related

Artikel 4740282127895458360

Post a Comment

emo-but-icon

Follow Us

Profile

About Me
Dr. Abdurrohman S.Ag. M.EI
Dosen Ekonomi Syariah Fakultas Ilmu Keislaman, Universitas Trunojoyo Madura. . Selengkapnya

Total Pageviews

Recent Posts

Random

Comments

Contact Us

Name

Email *

Message *

Populer

item